
Invalid Date
Dilihat 0 kali

Ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat dan hawa panas perlahan berganti menjadi sepoi angin sore, suasana di sepanjang jalan tanah Desa Jambu,
mendadak berubah meriah. Anak-anak kecil—para "bocil" desa—mulai berhamburan keluar dari rumah-rumah panggung kayu.
Kebanyakan dari mereka tampil polos dan bersahaja: bertelanjang dada dengan celana pendek, menikmati kebebasan masa kecil tanpa beban.
Di tengah jalanan berbatu halus, riuh tawa dan teriakan gembira membahana. Di satu sudut jalan, sekelompok bocil tampak asyik bermain
kelereng (gundicu). Dengan cermat mereka merunduk di atas tanah, membidik kelereng kaca yang berkilauan diterpa sinar matahari sore
untuk mengenai kelereng lawan di dalam lingkaran.
Tak jauh dari situ, anak-anak lain sibuk berlarian mengejar bola kertas yang dibuat dari padatan kertas bekas dan
diikat erat menggunakan karet gelang atau tali rafi’a. Meskipun bentuk bola sederhana dan melompat tak teratur di atas tanah yang tak rata,
gelak tawa terpancar dari wajah mereka tiap kali ada yang berhasil menendang bola masuk ke "gawang" imajiner di antara tiang-tiang rumah panggung.
Di sisi lain, angin sore yang bertiup kencang dari arah sungai dan perbukitan Tebo Ulu dimanfaatkan oleh bocil-bocil lainnya
untuk menerbangkan layang-layang. Layang-layang kertas warna-warni yang mereka rakit sendiri dari bambu dan kertas minyak
kini mengudara tinggi di langit cerah di atas atap-atap genteng rumah warga.
Ada pula yang sibuk menyusun batu-batu kecil bermain kelereng atau gasing, beradu ketangkasan dan strategi sederhana bersama teman sepermainan.
sementara Ibu-ibu dan tetangga yang duduk bersantai di tangga teras rumah kayu memperhatikan kehebohan anak-anak itu sambil tersenyum.
Bagi warga Desa Jambu tempo dulu, kebersamaan para bocil yang bermain bebas di jalanan desa adalah simfoni kehidupan
yang selalu menghidupkan suasana dan melengkapi kehangatan desa." By Admin
bersambung...........
Bagikan:
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini